1. Terapi Humanistik
Eksistensial
Salah satu tokoh humanistik
eksistensial adalah Rollo May. Selama hampir 50 tahun, pembicara psikologi
eksistensial yang terdepan di Amerika Serikat adalah Rollo May. Selama
bertahun-tahun menjadi terapis, May telah membangun sudut pandang yang baru
mengenai manusia. Pendekatannya tidak didasari oleh penelitian ilmiah yang
terkontrol, namun berdasarkan pengalaman klinis. Ia melihat manusia tinggal
dalam
dunia yang penuh dengan pengalaman masa kini dan akhirnya
bertanggung jawab terhadap diri mereka selanjutnya. Pandangan tajam dan
analisis mendalam May atas kondisi manusia menjadikannya penulis yang populer
di kalangan orang awam dan para psikolog profesional.
May percaya
bahwa banyak orang tidak mempunyai cukup keberanian dalam menghadapi takdir
mereka dan dalam proses melarikan diri dari hal tersebut, mereka melepaskan
kebebasan mereka. Dengan melepaskan kebebasan, mereka juga akan melarikan diri
dari tanggung jawab mereka. Dengan tidak mau membuat keputusan dan memilih, mereka
kehilangan pandangan tentang siapa diri mereka serta mengembangkan rasa
meremehkan sesuatu. Sebaliknya, orang yang sehat akan menghadapi takdirnya,
mensyukuri kebebasannya, serta hidup dengan jujur dan wajar bersama orang lain
serta dirinya sendiri. Mereka menyadari kematian tidak dapat dihindari dan
mempunyai keberanian untuk hidup di masa kini.
Psikologi eksistensial lebih terfokus pada perjuangan individu
untuk dapat berfungsi melalui pengalaman hidupnya dan tumbuh menjadi manusia
yang seutuhnya.
2.Konsep dasar terapi humanistik eksitensial
Konsep dasar dari eksistensialisme adalah:
a. Being-in-the-world
Banyak orang menderita kecemasan dan kesedihan yang disebabkan
oleh alienasi dari diri mereka atau dunia mereka. Selain itu, mereka juga tidak
memiliki gambaran yang jelas mengenai diri mereka atau merasa terisolasi dari
dunia yang terasa berjarak dan asing. Mereka tidak ada kesatuan antara diri dan
dunia.
Perasaan terisolasi dan alienasi diri dari dunia tidak hanya
diderita oleh individu yang terganggu secara patologis, namun juga oleh
kebanyakan individu dalam masyarakat modern. Alieanasi adalah penyakit masa
kini dan dimanifestasikan dalam tiga area, yaitu (1) keterpisahan dari alam,
(2) kurangnya hubungan interpersonal yang berarti, dan (3) keterasingan dari
diri yang autentik. Dengan demikian, manusia mengalami tiga bentukbeing-in-the-world yang
terjadi bersamaan, yaitu Umwelt (lingkungan disekitar kita),Mitwelt (hubungan
kita dengan orang lain), dan Eigenwelt (hubungan kita dengan
diri sendiri).
Umwelt adalah dunia objek dan benda dan akan tetap ada walaupun
manusia tidak memiliki kesadaran. Umwelt adalah dunia alam dan
hukum alam, termasuk dorongan biologis seperti rasa lapar dan dorongan untujk
tidur, serta fenomena alami seperti kelahiran dan kematian. Kita tidak dapat
lari dari Umwelt. Kita harus belajar untuk hidup dalam dunia yang
ada di sekitar kita dan menyesuaikan diri dengan perubahan dalam dunia ini.
Namun, kita tidak hanya hidup di Umwelt. Kita juga
hidup di dalam dunia yang penuh dengan manusia, yaitu Mitwelt. Kita
harus berhubungan dengan manusia sebagai manusia, bukan sebagai benda. Apabila
kita memperlakukan manusia sebagai objek, maka kita sesungguhnya hanya hidup
di Umwelt. Perbedaan antara Umwelt dan Mitweltdapat
dilihat dengan membedakan antara seks dan cinta. Apabila seseorang menggunakan
orang lain sebagai instrumen untuk kepuasan seksual, maka orang tersebut hidup
di Umwelt. Akan tetapi, cinta menuntut seseorang untuk berkomitmen
dengan orang lain. Mencintai berarti menghormati being-in-the-world pihak
satunya, sebuah penerimaan tidak bersyarat untuk orang tersebut. Tetapi, tidak
semua hubungan Mitwelt mengharuskan adanya cinta.
Eigenwelt merujuk pada hubungan seseorang terhadap dirinya sendiri.
Bentuk being-in-the-world ini adalah dunia yang biasanya tidak
dijelajahi oleh pakar teori kepribadian. Untuk hidup dalam Eigenwelt,
berarti untuk sadar atas dirinya sendiri sebagai manusia dan memahami siapa
diri kita saat berhubungan dengan dunia kebendaan dan dunia manusia.
Orang yang sehat hidup dalam Umwelt, Mitwelt,
dan Eigenwelt secara bersamaan. Mereka beradaptasi dengan
dunia alam, berhubungan dengan orang lain sebagai manusia dan mempunyai
kesadaran yang antusias atas apa arti dari semua pengalaman ini untuk mereka.
b. Nonbeing
Being-in-the-world membutuhkan sebuah kesadaran atas diri
sebagai makhluk yang hidup dan berkembang. Kesadaran ini kemudian dapat juga
berakibat akan ketiadaan, yaitunonbeing atau kehampaan.
Saat kita tidak berani menghadapi nonbeing kita
dengan mengontemplasikan kematian, kita tetap saja akan menghadapi nonbeing dalam
bentuk lain, termasuk kecanduan terhadap alkohol dan obat-obatan lain,
aktivitas seksual yang bebas, serta perilaku kompulsif lainnya. Nonbeing juga
dapat diekspresikan sebagai konformitas buta terhadap ekspektasi masyarakat
atau sikap bermusuhan yang akan merusak hubungan kita dengan orang lain.
May (1991) mengatakan, "kita takut terhadap nonbeing sehingga
mengerutkan keberadaan kita". Kita lari dari membuat pilihan yang aktif,
yaitu membuat keputusan tapa mempertimbangkan siapa diri kita dan apa yang kita
mau. Kita dapat mencoba menghindari ketakutan atas nonbeing dengan
meredupkan kesadaran diri dan menyangkal individualitas kita, namun pilihan
seperti itu meninggalkan perasaan sedih dan kekosongan. Dengan demikian, kita
melarikan diri dari ketakutan kita atas nonbeing dengan resiko
suatu eksistensi yang terbatas. Alternatif yang lebih sehat adalah menghadapi
kematian sebagai hal yang tidak dapat dihindari dan menyadari bahwa nonbeing adalah
bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keberadaan.
3.Unsur-unsur terapi humanistik eksistensial
a. Munculnya Gangguan
Dalam buku The Meaning of Anxiety, May menyatakan
bahwa banyak perilaku manusia memiliki motivasi dari landasan rasa takut dan
kecemasan. Kegagalan untuk menghadapi kematian, bertindak sebagai pelarian
sementara dari kecemasan dan ketakutan atas nonbeing, namun
pelarian tersebut tidak akan menjadi permanen. Kematian adalah sesuatu yang
pasti ada dalam kehidupan, yang cepat atau lambat harus dihadapi semua orang.
Manusia mengalami kecemasan saat mereka sadar bahwa
eksistensinya terancam hancur atau rusak. May mendefinisikan kecemasan sebagai
kondisi subjektif ketika seseorang nenyadari bahwa eksistensinya dapat
dihancurkan dan ia dapat menjadi 'bukan apa-apa' (nothing). Kecemasan
dapat muncul dari kesadaran atas nonbeing seseorang atau dari
ancaman atas nilai-nilai yang dianggap penting untuk eksistensi
seseorang.
Kecemasan dibagi menjadi dua, yaitu:
a. Kecemasan Normal
b. Kecemasan Neurotik
4. Tujuan Terapi
May menyarankan
bahwa terapi ini bertujuan untuk membuat manusia menjadi lebih manusiawi,
membantu mereka memperluas kesadaran mereka supaya mereka akan berada dalam
posisi yang lebih baik untuk dapat membuat keputusan. Selain itu, May juga
yakin bahwa tujuan psikoterapi adalah untuk membebaskan manusia dan harus lebih
terfokus pada membantu orang lain mengalami eksistensi mereka.
5. Peran Terapis
Terapis dan
klien harus membangun hubungan satu-lawan-satu (Mitwelt) yang membuat
klien mampu untuk lebih sadar akan dirinya dan hidup sepenuhnya dalam dunia
mereka sendiri (Eigenwelt). Kemudian juga membangun pertemuan
'saya-Anda' (I-thou), yaitu ketika terapis maupun klien dipandang
sebagai subjek dan bukan objek. Di dalam hubungan I-thou, terapis
memiliki empati atas pengalaman klien dan terbuka atas dunia subjektif dari
klien.
Kelebihan Terapi Eksistensial-Humanistik
1. Teknik
ini dapat digunakan bagi klien yang mengalami kekurangan dalam perkembangan dan kepercayaan diri.
2. Adanya
kebebasan klien untuk mengambil keputusan sendiri.
3.
Memanusiakan manusia.
4.
Bersifat pembentukan kepribadian, hati nurani, perubahan
sikap, analisis terhadap fenomena sosial.
5.
Pendekatan terapi eksistensial lebih cocok digunakan pada perkembangan klien
seperti masalah karier, kegagalan dalam perkawinan, pengucilan dalam pergaulan
ataupun masa transisi dalam perkembangan dari remaja menjadi dewasa
Kelemahan Terapi Eksistensial-Humanistik
1.
Dalam metodologi, bahasa dan konsepnya yang mistikal
2. Dalam
pelaksanaannya tidak memiliki teknik yang tegas.
3.
Terlalu percaya pada kemampuan klien dalam mengatasi masalahnya (keputusan
ditentukan oleh klien sendiri)
4.
Memakan waktu lama.
Pendekatan eksistensial-humanistis bukanlah
suatu aliran terapi dan bukan pula suatu teori tunggal yang sistematik.
Pendekatan ini merupakan pendekatan yang mencakup terapi-terapi yang berlainan
tetapi berlandaskan konsep dan asumsi tentang manusia.
sumber
Feist, J. & Feist, G. J.(2013).Teori Kepribadian.Jakarta: Salemba Humanika